Translate

Minggu, 23 November 2014

Kemarau Panjang, ada Banyak Ternak yang Mati Mengenaskan

Kemarau, Ratusan Kuda dan Kerbau Mati Mengenaskan
Aroma tak sedap tercium dari lahan tandus di Desa Sori Tatanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tengah dilanda kemarau. Ketika didekati, pemandangan mengenaskan tersaji di sana. Beberapa kerbau terkapar mati. Tubuh mereka telah dipenuhi cacing. Sementara di sekitar bangkai-bangkai binatang itu, tak ada apapun selain tanah tandus yang mengering. Musim kemarau kali ini memang tak tertahankan. Para hewan ternak sudah tidak sanggup lagi menahan kelaparan. Ratusan binatang yang sengaja dilepas warga itu akhirnya mati karena tak kunjung menemukan air serta rumput basah. Bahkan dalam sehari, hewan ternak yang mati mencapai lima ekor."Dalam sehari, jumlah hewan mati bisa 3 ekor, bahkan mencapai 5 ekor. Kami pun setiap hari selalu mendapatkan laporan adanya hewan mati tersebut dari masyarakat," ujar Sukardin di Dompu, NTB, Selasa (21/10/2014). Sukardin menyebut, jumlah kerbau, sapi, dan kuda di Kecamatan Pekat mencapai 200 ribu ekor. Namun akibat kemarau berkepanjangan ini, populasi hewan-hewan ternak tersebut berkurang."Sejak kemarau tahun ini, yang sudah mati mencapai ratusan ekor," tutur dia.Selain milik warga, hewan ternak kepunyaan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dulunya berjumlah sekitar 70 ekor juga sudah berkurang karena banyak yang mati diterjang kekeringan."Kami juga kesulitan mendapatkan air. Selama ini, kita memberi minum dari air sungai yang sudah mulai mengering. Namun itu tidak mampu mencukupi kebutuhan hewan," keluh dia.Karena itu dia berharap, bakal ada uluran tangan dari pemerintah untuk pengadaan bor air dan makanan ternak, seperti rumput gajah serta dedaunan. Sementara ternak-ternak itu kini hanya bisa mengandalkan batang kayu untuk mengisi perut mereka yang lapar. Air dan rumput yang biasa mereka mamah kini bak makanan mahal karena mati diterjang kemarau.